Profil Alumni

Tri Muji Susantoro 95 : Dari Belok Jurusan Hingga ke Luar Negeri

11:59, 06 Desember 2013 | Dibaca 1079 kali

“Takdir itu ada, tapi jangan kau tunggu, kau kejar takdirmu.... “.  Satu kalimat penutup yang cukup menarik perhatian dari sebuah cerita yang ditulis di blog milik alumni Kelautan Undip 95. Ada banyak cerita yang tertulis di blog tersebut, satu yang menarik coba untuk saya bagi. Tri Muji Susantoro, lahir di Brebes, di hari ke-lima bulan Desember tahun 1976. Sebenarnya, Kelautan bukan tujuan awal beliau kuliah. Tapi, seperti apapun manusia berencana dan berkeinginan, tetap saja Tuhan yang paling menentukan.

 

Dengan alasan gengsi memilih jurusan yang sama dengan kakaknya, karena tidak suka dibanding-bandingkan selain itu Pak Dhe-nya yang juga sudah masuk di jurusan teknik, pada akhirnya memang beliau harus ‘nyemplung’ meskipun sebelumnya sempat berniat merantau dan memilih untuk bekerja. Yang paling berkesan untuk beliau adalah wisuda. Jelas saja, karena beliau menjadi yang pertama wisuda di angkatan '95 bersama 6 orang temannya yaitu Dedi Safari, Nuning, Opank, Muslih, Novrizal, Nova. Yang saya rasa mereka akan senang kalau dipertemukan kembali, dan semoga saja bisa menyumbang tulisan untuk submenu Nostalgia web ini (hehehe.. ... ). 

 

Pria yang selepas wisuda memilih menekuni kursus Bahasa Arab intensif selama 2 bulan ini kemudian melanjutkan kursus manajemen dan sekretariat selama 1 bulan, sempat bercita –cita ke LN, tapi gagal, karena keburu ketemu orang LEMIGAS yang meminta untuk mebantu project yang akan dijalankan orang LEMIGAS, sampai akhirnya menjadi PNS di tahun 2002 sampai sekarang (suses selalu ya, om.. ).  Kemudian menikah pada tanggal 28 Desember tahun 2002 juga. Kebahagiaan beliau semakin lengkap, ketika Ayah dari Muhammad Yusuf Al’azmi ini ditugaskan oleh instansinya untuk kembali sekolah pada 2007 serta 2009 dan lulus dengan sangat baik.

 

“Kelautan sedikit kontribusinya untuk pekerjaan saya, tetapi pola pikir dari Ilmu Kelautan dapat menjadi dasar untuk bekerja sekarang ini” kata Tri Muji Susantoro. ” Pada dasarnya runtunan keilmuan relatif sama.. sampai sekarang pun saya harus belajar secara otodidak tentang geologi.  Dulu di Kelautan hanya belajar geologi 1 dan 2 serta sedimen. Bayangkan begitu repotnya saya, kemudian sekarang belajar pula perminyakan harus menghitung sumberdaya migas di dasar bumi yang dalamnya berkilo-kilometer. Puyeng juga...” Tegas Kepala Kelompok Penginderaan Jauh dan SIG yang bekerja dengan tim 17 orang ini lewat blognya.

 

Beliau mengaku suka sharing dengan adik-adik mahasiswa yang magang di LEMIGAS dan berpesan ”Tolong rencanakan cita-citamu, cari tahu persyaratan untuk mencapai cita-cita tersebut.. dekati setahap demi setahap.. sehingga ketika kau berhasil dapat merasakan artinya berhasil dan ketika kau gagal setidaknya kau pernah memperjuangkan cita-citamu.. takdir itu ada, tapi jangan kau tunggu, kau kejar takdirmu..”  Profesi sebagai peneliti dan sering sebagai pekerja lapangan membuat beliau pada akhirnya bisa melanglang Indonesia dari Aceh sampai Papua dan juga pernah ke LN (Jepang, Korsel dan Malaysia) meskipun dengan kemampuan bahasa Inggris yang pasa-pasan hanya karena nekat saja.  Well, sukses dan terus berbagi ya, Bapak Tri Muji Susantoro. Kelautan Jaya!  (Tt).