Profil Alumni

Om Sarjito, alumni Kelautan yang Tak Puas Jadi Karyawan

10:41, 28 November 2013 | Dibaca 2006 kali

Masa Kuliah

Ilmu kelautan UNDIP yang berdiri sejak tahun 1987 ini telah mengantarkan salah seorang mahasiswa yang panggilan akrabnya Om Sarjito ini menjadi sarjana.  Masuk pada tahun 1987 dan lulus September 1993 atau butuh waktu sekitar 6 tahun menyelesaikan studinya.  Masuk sebagai mahasiswa ke 13 serta lulus sebagai sarjana kelautan Undip ke 13 dengan ipk 3.1  Kalau di bilang beliau tidak jauh dari angka 1 dan 3.

Minat awalnya memilih untuk kuliah di Ilmu Kelautan UNDIP (dulu PS ITK) dengan  alasan UNDIP adalah Universitas Besar dan Ilmu Kelautan adalah disiplin ilmu yang baru di Indonesia saat itu (tahun 1987).  Jalan untuk menjadi sarjana kelautan tidak semulus yang dibayangkan tapi dicapai dengan perjuangan dan kerja keras apalagi sebagai angkatan pertama.  Beliau menyesuaikan dengan situasi block system praktikum di  LPWP-Jepara yang dianggap sebagai kegiatan belajar sambil rekreasi dengan fasilitas yang tidak seperti sekarang ini lengkapnya.

         Perjuangan yang dianggap paling mengesankan selama kuliah adalah saat akan menyusun skripsi.  Beliau berusaha keras untuk membuat tugas akhir yang kelautan banget. Akhirnya, mencoba Remote Sensing dan saat itu belum ada mata kuliah tersebut.  Berkat kemauan dan bimbingan Pak Agus Hartoko dan Bu Sri (Lapan JKT) serta keterbukaan PUSPICS UGM beliau bisa menyelesaikan tugas akhir.  Puji syukur kepada Allah dan rasa puas yang tidak bisa diutarakan oleh beliau bisa mempelajari hal yang saat itu belum diajarkan hingga harus mengulang 2 kali skripsinya.  Prestasi lain yang beliau raih yaitu  mampu mempertahankan IPK 3 selama menjadi mahasiswa hingga ditunjuk sebagai Mahasiswa Berprestasi  tahun 1989. Konon, saat itu untuk memperoleh IPK 2,5 saja sangat susah.

 

Pengalaman sebagai Pegawai

Segera setelah lulus beliau  diteriama di PT Dipasena Citra Darmaja.  Kariernya diawali sebagai Supervisor Produksi yang dijalani pada tahun 1993 – 1995.  Kemudian, beliau naik jenjang sebagai Ass Manager Sub Blok Produksi yang dilakoni pada 1995 hingga 1997.  Nasib baik, kerja keras dan kemampuan yang memadai mengantar Om Sarjito menjadi Kepala Divisi Sumber Daya Budidaya-SDM pada tahun 1997.  Di posisi ini beliau hanya bertahan selama setahun.

Pada tahun 1998, beliau pindah ke  PT Birulaut Khatulistiwa dengan jenjang karier diawali sebagai Peneliti Tambak Percobaan R and D di tahun 1998-1999. Kemudian secara berkala posisinya naik sebagai Kepala Seksi Maturasi dan Kepala Seksi Spawning and Hatching.  Pada tahun 2001 beliau sudah mencapai posisi Asisten Manajer CNPD. Cukup dua tahun, pada tahun 2003, Om Sarjito menduduki Manajer CNPD.

Entah mengapa, posisi puncak tidak menyamankan beliau. Hal ini terbukti pada tahun 2003 juga beliau pindah ke PT Surindah – Tuban.  Ketika masuk langsung diposisikan sebagai General Manager Unit Tuban.

Sebagai Pengusaha

            Saat ini, beliau menjadi wirausahawan dengan membentuk sebuah perusahaan bernama Wono Agung Lautan Hijau yang berada di Rawajitu Selatan, Kab Tulang Bawang, Lampung. Perusahaan tersebut bergerak dibidang perdagangan, layanan jasa, dan perkebunan. Semua dilakukan beliau untuk membiayai hidup sehari-hari untuk istri dan kedua anaknya.

Beliau memberanikan diri untuk menjadi wirausahawan karena menurt beliau ketika lulus sebagai sarjana, bekal materi kuliah itu ibarat bahan mentah dan tinggal kita merangkainya sendiri. Tidak semua materi itu terserap dalam dunia kerja. Bagaimana cara merangkai materi kuliah satu dengan yang lain untuk menyelesaikan tugas pekerjaan. Kegiatan tersebut menjadi seni tersendiri dan yang terpenting adalah kita mempunyai kemampuan melihat permasalahan, analisa, dan manajemen masalah.

Akhir kata wawancara, beliau mengatakan apa yang dicapai hingga saat ini  juga atas bimbingan Bapak dan Ibu Dosen seperti Bp Priyadi Sudarsono, Bp Agus Hartoko, Bp Yusuf S., Bp M. Yusuf, Bp Sarjito (kembaran beliau), Bp Ambariyanto, Bp Petrus, Bp Ocky, Bp Rudi, Bu Ian (Delianis P), Bu Retno, Bu Yuliani (alm) dan semuanya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.  Beliau sangat berterima kasih karena berkat bimbingan bapak dan ibu bisa mengantarkan menjadi sarjana kelautan yang bisa menempatkan diri berada ditengah masyarakat. Semoga semua itu menjadi amal kebaikan Bapak dan Ibu.  Amin.  (Cia, EHD, AT).