Nostalgia

Puji Norbawa : Nostalgia Skripsi Kilat 14 Hari

00:07, 13 Desember 2013 | Dibaca 1235 kali

Skripsi. Satu kata manis yang mungkin membuat sedikit sensitif, terutama untuk mahasiswa tingkat akhir. Kali ini aku coba untuk membagi sedikit cerita dibalik skripsiku.

Aku mulai dari cerita bab satu sampai tiga, karena sebelum skripsi pasti kita harus sudah punya proposal penelitian kan? Teman-teman 2009 pasti pernah ingat saat UAS, laporan AMDAL setebal 200 halaman, persiapan KKL yang super ribet dan jadwal kolokium yang datang tiba-tiba seperti jailangkung yang datang tak diundang. Yang dapat aku korbankan adalah terpaksa membuat proposal penelitian yang akan disidangkan hanya dalam waktu satu malam.

Aku kirimkan saja proposal satu malam itu ke dosbing sebagai bentuk riset untuk mengetahui sedetail mana beliau mengoreksi (hehehe). Mengejutkan, sangat perfect, bahkan jarak spasi, titik koma, salah ketik satu huruf tak luput dari koreksi. Coretan merah berlumuran. Ini seru, berarti tingkat perfectionis-nya 99%, sehingga jika ingin cepat lulus, tingkat perfectionis aku harus 100%. Sejak saat itu, aku harus mencoba mengerjakan skripsi sedetail mungkin, sesempurna dan secepat mungkin. Jika beliau berhasil melakukan koreksi sedetail itu dalam waktu tak lebih dari 6 jam, maka aku juga harus bergerak cepat. Pada akhirnya, dalam waktu 3 hari aku sudah ACC bab 1-3. Kemudian, 3 hari berselang berhasil aku selesaikan bab 4. Bukan tanpa hambatan, dosen pembimbing ke-2 belum sama sekali melihat draft skripsiku.

Bab 1-4 sudah selesai, dosbing pertama sudah ACC bab 1-3. Sekarang tiba giliran menghadap dosbing ke-2. Kuserahkan draft bab 1-3 yang sudah di ACC dosbing pertama,

"Perkenalkan Bu aku bla bla bla (basi basi panjang lebar). ingin menyerahkan draft skripsi bab 1-3"

"Ok dek, rabu diambil ya."

Hari Rabu tiba.

"mau ambil revisian, Bu"

"aduuuh dek, belum sempat. besok ya"

Setelah beberapa kali aku menghadap, hasilnya sama, ternyata draft skripsiku keselip sehingga tanpa sempat dikoreksi.

Gubrak....

Sudah jelas bagaimana perasaanku ketika itu. Rasanya ingin seketika itu pergi dan membanting pintu. Butuh ketenangan, sedikit kesabaran dan strategi. Yap! strategi. Aku peneliti, tapi aku juga seorang politisi. Tidak ada pilihan lain, cara politis terpaksa ku lakukan. Inilah insting ketua partai dan pimpinan senat universitas. Lobying, adalah strategi pertama, ini paling aman. Gagal atau berhasil, mempunyai probabilitas yang sama. Tapi, setidaknya aku menang satu langkah. Beliau sudah mengucapkan, "maaf". Secara isyarat sebenernya bendera putih hampir diangkat. Politik itu dinamis, kehilangan momen bisa kalah, harus bergerak cepat, memperhatikan peluang sekecil apapun itu. Lobying dimulai.

"Iya Bu, tidak apa - apa. Nanti aku print lagi. Bisa minta waktu sebentar Bu?"

"Iya dek, silahkan"

"Beberapa minggu lalu saya lolos seleksi sebagai staff research di sebuah perusahaan, Bu. Mereka tertarik dengan skripsi saya, mikroalga. Kontrak kerja sudah dikirimkan, tapi mereka butuh kepastian kapan aku bisa gabung. Begitu urusan skripsi selesai, saya bisa langsung berangkat. Untuk ijazah, transkrip, dan lainnya bisa ditangguhkan."

"Kalau begitu, besok kamu segera serahkan ke saya. Saya tunggu di ruangan ini sampai jam 9."

"Saya serahkan per bab atau bagaimana, Bu?", lobying berhasil maka strategi 2 diterapkan, percepat, ini momen.

"Kalau bisa sampai daftar pustaka ya tidak apa - apa."

"Iya Bu, besok saya serahkan sekalian lampiran - lampiranya."

Kawan, ini keajaiban, tapi bukan tanpa usaha. Beruntung sembari menunggu waktu yang menjengkelkan itu aku melampiaskannya menyelesaikan draft skripsi. Draft sebenarnya sudah selesai berhari - hari yang lalu. Jumat pagi, aku tidak mau kehilangan momen. Draft skripsi sudah jadi. Dan ajaibnya lagi, langsung dikoreksi ditempat itu juga. Sedikit sekali revisinya, hanya grafik yang tidak sesuai format.

"Aku percaya kamu dek. Segera daftar sidang saja. Hanya ada sedikit revisi", Ahh... kata itu nyaring sekali terdengar.

Senin siang, tepat 3 minggu aku menyusun draft skripsi, tanda tangan ACC kedua pembimbing sudah aku peroleh. Dan aku sidang tepat 4 minggu setelah penyusunan skripsi, 1 April 2013. Memang benar, “Penantian terbaik adalah menyiapkan, kesabaran terbaik ada dalam perjuangan, semangat terbaik adalah upaya mengejar kebermanfaatan dan asa terbaik ada dalam doa”

Tulisan ini aku buat bukan untuk mengkerdilkan siapapun. Tulisan ini hanya sekedar untuk berbagi semangat pada sahabat. Tulisan ini hanya bentuk ucapan terimakasih pada almamater UNDIP, kedua pembimbing aku, kawan - kawan seperjuangan, kawan - kawan Marine Science 09 serta adik - adik yang saat ini masih dalam studi. Semoga ikatan ini semakin dikuatkan, jalan ini semakin diterangkan, semangat ini semakin dikobarkan serta ini iman ini semakin dikokohkan.

Puji Norbawa – Ilmu Kelautan 2009 (Cia, EDH)