Nostalgia

Ekspedisi Marcopolo Oleh : Fajar Nugroho, IK-03

05:45, 15 Januari 2014 | Dibaca 892 kali

Ekspedisi Marcopolo    

Oleh : Fajar Nugroho, IK-03

 

Kawan-kawan MDC pasti tahu, bahwa tahapan terakhir rangkaian rekrutmen organisasi adalah “manajemen proyek” dalam bahasa saya. Inilah rangkaian terpanjang dan tersulit. Biasanya banyak yang berguguran pada tahap ini. Kami bersembilan diberi amanah untuk melaksanakan ekspedisi ilmiah pendataan biota laut khususnya terumbu karang lengkap dengan ikan-ikannya ke Kepulauan Karimunjawa. Nama resmi ekspedisi ini adalah Ekspedisi Corallium. Saya beri judul Ekspedisi Marcopolo karena alasan tertentu, kawan-kawan akan tahu jawabannya setelah selesai membaca tulisan ini.

 

 

 

Tantangan pada tahapan ini adalah kami dibebaskan membuat konsep kegiatan ekspedisi sesuai kreatifitas kami, namun tetap mengacu pada tema utama yaitu pendataan biota laut untuk tujuan konservasi. Mulai dari perencanaan sampai evaluasi kami bersembilan yang lakukan. Sebenarnya kalau saya pikir-pikir sekarang, ternyata hanya satu yang membuat sulit tahapan rekrutmen ini, yaitu dana. Biasa lah mahasiswa rantau kan pengennya yang murah dan gratis. Oleh karena itu berbagai macam proposal diajukan ke mana-mana. Mulai dari instansi pemerintah sampai swasta bahkan ke perusahaan yang agak kurang nyambung dengan kegiatan. Bahkan waktu itu kami sempat ajukan ke pabrik minuman sirop anak-anak, kurang apa coba… . Produk rokok juga sempat diajukan tapi tidak tembus mungkin karena bertentangan dengan prinsip-prinsip konservasi hehe (sorry ya pri…). Perlu diketahui, kawan kami Apri sekarang bekerja di perusahaan udud Internasional.

 

Selain proposal ada juga penghimpunan dana dari hasil jualan dan lainnya yang non proposal. Desta koordinatornya. Idenya aneh-aneh dan sangat absurd, tapi lumayan juga ada pemasukan. Pemasukan terbesar dari jualan kaos angkatan. Jadi kami bersembilan berhasil “menghasut” teman-teman seangkatan untuk membuat kaos dalam rangka kekompakan dan kebersamaan biar serasa senasib sepenanggungan halah… Nah setelah itu, proyek pembuatan kaos kami yang lakukan, lumayan tuh untungnya. Ide aneh Desta yang lain adalah agar kami ikut dalam reality show Katakan Cinta RCTI (sekarang udah ga ada). Biasanya ini dilombakan, peserta dengan skenario terbaik akan dapat hadiah lima juta kalau ga salah. Jadi skenarionya si Jensi mau nembak calonnya, kalau diterima ia akan terjun dari papan loncat di kolam renang Watugong setinggi 10 meter. Kenapa Jensi, karena Jensi ini yang paling berani loncat dari ketinggian kalau saya mending push up seratus kali daripada terjun. Namun akhirnya tidak jadi dilaksanakan karena satu dan lain hal, tapi alasan utamanya sih sampai sekarang kita belum bisa menemukan siapa calonnya Si Jensi (jomblo kelas berat…).

 

 

 

 

Singkat cerita, sampailah pada waktu yang ditunggu-tunggu. Desember 2004. Musim angin dari Barat yang basah menyelimuti Nusantara termasuk Karimunjawa yang berakibat tingginya gelombang di Laut Jawa. Pulau Karimunjawa ditempuh kurang lebih 6 jam dari Pelabuhan Kartini, Jepara naik ASDP. Saya siap-siap obat antimo (obat anti modar mabok) satu jam sebelum berangkat karena dipastikan kapal akan berjalan terombang-ambing sehingga berpengaruh pada perut saya. Setelah enam jam sampailah kita ke Pulau Karimunjawa. Penyelaman akan dilaksanakan esok hari. Hari ini istirahat dan persiapan alat untuk besok. Desember adalah bulan hujan, langit mendung dan gelombang tinggi adalah biasa di bulan itu. Awalnya kami anggap biasa saja so.. hari pertama penyelaman kami berangkat dengan hati riang dan gembira. Di laut belum ada masalah waktu itu. Gelombang memang agak tinggi dan sore hari biasanya hujan. Ada beberapa penyelaman yang dicancel karena cuaca buruk.

 

 

 

Kemudian pada hari kedua, kalau tidak salah tanggal 26 Desember 2004. Pagi itu mendung menyelimuti Karimunjawa seperti mau hujan besar. Tapi so far so good kata nahkoda kapal yang orang lokal. Jadi kami memutuskan untuk melaksanakan penyelaman hari itu. Sekitar pukul sembilan pagi cuaca membaik sampai tengah hari. Penyelaman pun kami lakukan sesuai rencana. Nah, setelah tengah hari selesai menyelam di spot Tanjung Gelam, sesuai dengan namanya perlahan-lahan langit mulai kelam, gelombang meninggi dan cuaca mulai tidak bersahabat. Saat persiapan perjalanan pulang ke penginapan, kapal menarik jangkar tapi karena gelombang terlalu besar, kapal terseret ke perairan dangkal sehingga kandas di bongkahan karang. Belum salesai menangani kapal kandas, dari arah laut meluncur gelombang besar menghantam kapal. Seketika kapal oleng, saya yang sedang packing peralatan terjun bebas ke laut. Daru panik kemudian meraih BC (bouyancy compensator) lalu memakainya sebagai pelampung, pemandangan agak menggelikan memang, Daru yang jarang sekali “nyebut” kali itu teriak “Allahuakbar…Allahuakbar…. kulo tobat ya Allah…..” di depan Andhika yang sibuk memegangi tabung persis pemain sirkus. Beberapa tabung jatuh ke laut sehingga Warso, Apri, Anton, Jensi dan Totok nyemplung berenang mengejar barang-barang itu. Syukurlah tabung tidak ada yang hilang, cuma ada satu galon minuman yang lari entah kemana dibawa ombak. Kekhawatiran kami waktu itu jika peralatan termasuk kompresor nyemplung ke laut dan hilang, pakai duit siapa kami harus ganti, proposal lagi….cape deh...

 

 

 

Setelah beberapa menit, keadaan mulai membaik, kapal sudah bisa jalan dan lepas dari karang. Saat kapal mau berjalan pulang eh… Anton ketinggalan karena harus ambil pelampung yang hanyut jauh sekali. Sampai di kapal Anton langsung misuh-misuh (marah marah) terutama kepada senior kami Bang Siham yang memerintahkan kapal untuk jalan. Baru kali ini saya lihat junior marah-marahin senior hehe…. Beberapa meter kapal jalan, satu lagi musibah melanda, kemudi kapal patah. Sepertinya kami sudah mati rasa dengan musibah, ya sudahlah tunggu kapal lain lewat dengan harapan bisa ditarik ke daratan. Kapal semakin terombang ambing di lautan, beberapa waktu kemudian ada secercah harapan (halah…) ketika melihat kapal yang datang ke arah kami. Semua melambai-lambaikan pakaian berharap kapal itu melihat kami, namun sebaliknya kapal itu semakin menjauh. Mungkin takut dirampok kali atau karena faktor wajah ? wkwkwk... . Tapi alhamdulillah HP Bang Siham canggih sehingga sinyal bisa ditangkap di tengah laut sekalipun. Segera ia hubungi penginapan, selang beberapa jam kapal bantuan datang dan menderek kapal kami.

 

 

 

Tiba di daratan kami istirahat sambil nonton TV tepat sekali waktu itu berita 26 Desember 2004 tsunami melanda Aceh, kami semakin ilfill saja menghadapi penyelaman berikutnya. Tapi apa boleh buat the show must go on…kita lihat saja esok, bukankah nyawa itu di tangan Tuhan.

 

 

 

Keesookan harinya saya bangun, ada pemandangan yang sangat indah, Daru Sholat Subuh khusuk sekali….. .

 

Catatan akhir : kami tidak sertakan foto karena waktu itu belum musim foto digital, jadi agak sulit mencarinya. Foto kegiatan ada pada arsip MDC (kalo belum ilang). Beberapa karakter dalam tulisan ini tersedia di toko-toko terdekat, eh salah dapat Anda search di Dik Google atau Dik Fisbuk.

 

Penulis : Fajar Nugroho, IK ’03, K2D003219. MDC Angkatan XI.