Artikel

BUDIDAYA RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii METODE RAKIT APUNG dan LEPAS DASAR Oleh Titi Eka Pramid

10:29, 31 Desember 2014 | Dibaca 1904 kali

BUDIDAYA RUMPUT LAUT  Kappaphycus alvarezii METODE RAKIT APUNG  dan LEPAS DASAR

Titi Eka Pramida

Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang, ,Indonesia

E-mail: titik443@gmail.com

 

 

ABSTRAK

Penelitian mengenai  Studi  Pertumbuhan  Rumput  Laut  (Kappaphycus alvarezii) dengan  Metode  Penanaman  yang  berbeda. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisis  perbandingan metode budidaya rakit apung, dan lepas dasar terhadap  pertumbuhan Kappaphycus alvarezii melalui  pengukuran  :  laju  pertumbuhan dan pertambahan berat. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa metode budidaya  rakit apung  lebih efektif dibanding dengan metode budidaya  lepas dasar.  Laju pertumbuhan tertinggi  Eucheuma cottonii didapatkan pada  metode rakit apung sebesar 4,55%  setiap harinya.

Kata Kunci : Metode Rakit Apung, Metode Lepas Dasar, Kappaphycus alvarezii

ABSTRACT

 

Research  on  Growth  Studies  Seaweed with Different Planting Methods. The aim  of  this  research ware  to  know  and  analyze  the  ratio  of  floating  raft method,  and off-bottom method to growth from Kappaphycus alvarezii covering as follows : growth rate and weight accretion. The results of showed that the floating raft  method  is  more  effective  than off-bottom  methods.  The  highest  growth  rate  of  Kappaphycus alvarezii on the floating raft method amounted to 4,55% / day.

Keyword : raft method, off-bottom method, Kappaphycus alvarezii


  1. PENDAHULUAN

 


Rumput laut  merupakan  salah satu jenis tanaman tingkat rendah dalam golongan  ganggang  yang  hidup  di  air laut. Rumput laut merupakan salah satu komoditas laut yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi.  Indonesia memiliki luas area untuk  kegiatanbudidaya rumput laut  seluas  1.110.900 ha,  tetapi  pengembangan  budidaya rumput  laut  baru memanfaatkan  lahan seluas  222.180  ha  (20%  dari  luas  areal potensial)  (Diskanlut  Sulteng  dan  LP3L TALINTI, 2007).

Beberapa  tahun  yang  lalu  rumput  laut hanya  dipergunakan  sebagai  bahan  makanan  manusia.  Seiring  dengan  kemajuan  sains  dan teknologi,  pemanfaatan  rumput  laut  hasil  budidaya  telah meluas di berbagai bidang pertanian: digunakan sebagai  bahan  pupuk  organik  dan  bahan  pembuatan salah satu media pertumbuhan dalam kultur  jaringan (tissue  culture);  di  bidang  peternakan:  rumput  laut digunakan  sebagai  pakan  pada  peternakan  hewan potong, sehingga diharapkan dihasilkan daging yang enak;  di  bidang  kedokteran:  digunakan  sebagai media  kultur  bakteri  (bacteri  culture);  di  bidang farmasi:  digunakan  dalam  pembuatan  suspensi, pengemulsi,  tablet,  plester  dan  filter;  sedangkan  di bidang  industri  lainnya:  rumput  laut  digunakan sebagai  bahan  aditif  seperti  pada  industri  tekstil, kertas, keramik,  fotografi,  insektisida dan pelindung kayu (Dahuri dkk., 2001).

Salah  satu  jenis  rumput  laut yang  dibudidayakan  oleh  masyarakat adalah  Eucheuma  cottonii  (Kappaphycus alvarezii).  Jenis  ini  banyak dibudidayakan  karena  teknologi produksinya  relatif  murah  dan  mudah serta  penanganan  pasca  panen  relatif mudah  dan  sederhana.  Selain  sebagai bahan  baku  industri,  rumput  laut  jenis ini  juga dapat diolah menjadi makanan yang dapat dikonsumsi langsung.

Keberhasilan  budidaya  rumput  laut  sangat tergantung  pada  teknik  budidaya  yang  tepat  dan dengan  metode  budidaya  yang sesuai. Metode budidaya yang dipilih hendaknya dapat memberikan pertumbuhan yang baik, mudah dalam penerapannya dan bahan baku yang digunakan murah  serta mudah didapat. Menurut Atmadja  (1996), metode  budidaya yang dikembangkan di  Indonesia antara  lain metode rakit  apung,  metode  lepas  dasar  dan  metode  tali rawai atau rentang.

Hambatan  yang  timbul  dalam  budidaya rumput laut meliputi kualitas sumber daya  penduduk pesisir  sebagai  petani  rumput yang masih relatif rendah, sehingga menghasilkan  rumput  laut  dengan mutu kurang  bagus.  Mutu  yang  kurang  bagus disebabkan pencampuran hasil produksi  rumput  laut dengan  benda-benda  lain  seperti  garam,  paku,  dan besi  serta  penerapan  masa  budidaya  yang  tidak sesuai.  Pemasaran  rumput  laut    masih  berupa  raw material berskala  ekspor.  Hambatan  lain  dalam budidaya rumput laut yakni pada serangan hama dan penyakit  seperti  serangan  ikan  baronang  (Siganus sp.)  dan  penyakit  ice-ice  serta  kondisi  cuaca  yang berubah-ubah  tergantung  pada  musim  (DKP Sumenep, 2006).

 

  1. METODOLOGI

 

  1. Metode Rakit Apung

Budidaya  rumput  laut  jenis  Kappaphycus alvarezii di lokasi studi lapang menggunakan metode rakit  apung  dimana  rakit  sebagai  alat  utama  dalam proses  budidaya.  Rakit  yang  berjumlah  16  buah terbuat  dari  bambu  ini  berbentuk  pesegi  panjang dengan ukuran 10 x 7 m yang sisi dalamnya  terbagi menjadi empat bagian  yang dibatasi bambu. Ukuran rakit  tidak  sesuai  dengan  pendapat  DKP  Sumenep (1996) dimana ukuran rakit yang disarankan 2,5  x 5 m. Tali  yang  digunakan  untuk  mengikat rumput  laut,  digunakan  tali  ris  berupa  tali  nylon berukuran diameter 4 mm dengan panjang  sekitar 11 meter. Dalam satu ancak petani menggunakan tali ris sebanyak 72 buah yang diikatkan dari  satu  sisi  rakit ke  satu  sisi    yang  berlawanan.  Jarak  antar  tali  ris sekitar kurang lebih 14 cm. Sepanjang  tali  ris  terdapat  tali  pengikat rumput  laut  yang  dinamakan  tali  gabar.  Tiap  tali gabar  memiliki  panjang    kurang  lebih  20  cm berjumlah  70  buah  tiap  risnya.  Pada  bagian tengahnya,  diikatkan  secara  kuat  pada  tali  ris sehingga  kedua  ujungnya  bergelantungan  bebas  dan kemudian  dapat  digunakan  untuk  mengikat  rumput laut.  Tiap  ikatan  antara  tali  gebar  berjarak  10  cm dalam  satu  tali  ris. Kondisi  ini  tidak  sesuai  dengan pernyataan  Afrianto  dan  Evi  (1993)  yakni  jarak ikatan rumput laut yang baik antara 20 - 25 cm.

           

  1. Metode Lepas Dasar

Sesuai  dengan  metodenya, kerangka  dasar  ditempatkan  dekat dasar  perairan  dengan  menggunakan tali tunggal sepanjang 25 meter. Metode tali  tunggal  lepas  dasar  dilakukan dengan cara mengikat bibit rumput laut pada tali anak yang telah diikatkan pada tali  ris,  yang  kemudian  direntangkan dekat dasar perairan (± 30 cm dari dasar perairan) dengan  cara  tali  ris direntang kemudian diikat pada patok yang  telah disiapkan.  Jarak  pengikatan  bibit rumput laut yang satu dengan yang lain berjarak  25  cm.

 

  1. HASIL
  1. Metode Rakit Apung

                  dihasilkan  dari    pemanenan  dalam  kurun  waktu  30 hari  untuk  setiap  rakit  sebanyak  kurang  lebih  1000 kg  dengan  bibit  awal  seberat  250-350  kg.  Berat rumput laut mengalami penambahan berat sekitar 3 – 4  kali  dari  berat  bibit  semula  dengan  laju pertumbuhan  4,55%  dalam  kondisi  lingkungan mendukung.

 Laju pertumbuhan rumput laut di Lokasi studi lapang sekitar 4,546 % tiap hari dan pemanenan yang lebih  cepat  yaitu  30  hari    menunjukkan  bahwa produksi  rumput  laut  sangat  bagus  dan  berpeluang dikembangkan menjadi  skala  yang  lebih 

besar.  Hal ini  sesuai  dengan  pendapat Atmadja  (1996)  bahwa budidaya  rumput  laut  yang  baik  memiliki  laju pertumbuhan rumput laut minimal 3% tiap harinya.


  1. Metode Lepas Dasar

Minggu

1

2

3

4

5

6

Berat ( gr )

79,62=49,33

95,88=49,33

123,43=49,33

145,07=49,33

179,03=49,33

209=49,33

Pertambahan berat (gr)

29,62=6,44

16,26=44

27,57=6,44

21,64=6,44

33,96=6,44

29,97=6,44

 

 

 

 

 

 

 

Laju pertumbuhan       ( %)

 

 

 

26,89 %

 

 

 

  1. PEMBAHASAN

Dari hasil yang di dapatkan dari metode rakit apung, sudah terlihat perbedaan yang menonjol dari laju pertuumbuhan dan hasil pemanenan yang di dapat. Metode ini sangat cocok pada perairan berkaranq dimana pergerakan airnya didominasi oleh ombak. Kondisi  perairan  di  lokasi  studi  lapang  sangat mendukung dalam proses budidaya. Hal  ini dapat dilihat  dari  ciri  perairan  di  lokasi  yang memiliki ombak  yang  relatif  tenang  tidak  terlalu  besar akibat  terlindungi  oleh  pulau-pulau  kecil  serta karang  disekitarnya,  angin  yang  tidak  begitu kencang, bersih dari pengaruh limbah industri dan limbah  rumah  tangga. 

Pertumbuhan relatif  dan  laju  pertumbuhan  rumput laut  dengan  metode  rakit  apung lebih  tinggi dibandingkan  dengan  kedua  metode lainnya. Pertumbuhan  rumput  laut Eucheuma  cotonii  yang  menggunakan metode rakit apung  ini, umumnya lebih baik  karena  pergerakan  air  dan intensitas  cahaya  cukup  memadai  bagi pertumbuhan  rumput  laut,  lebih  bisa diterapkan  pada  lokasi  dengan  kondisi perairan  lebih  dalam,  tetapi  masih terlindung  dari  gelombang  besar. Tanaman  lebih  banyak  menerima intensitas cahaya matahari serta gerakan air  yang  terus  memperbaharui kandungan  nutrisi  pada  air  laut  dan akan mempermudah penyerapan nutrisi oleh  tanaman  sehingga  pertumbuhan tanaman akan lebih cepat.

Sedangkan Metode lepas dasar , yang dilakukan dengan menggunakan tali ris yang  kemudian  direntangkan dekat dasar perairan (± 30 cm dari dasar perairan) dengan  cara  tali  ris direntang kemudian diikat pada patok yang  telah disiapkan.  Jarak  pengikatan  bibit rumput laut yang satu dengan yang lain berjarak  25  cm. Berbeda dengan metode rakit apung, metode ini justru sulit jika diterapkan di daerah yang terdapat banyak karang karena akan menghambat atau menyulitkan proses penancapan patok. Metode ini lebih cocok di aplikasikan di dasar perairan berlumpur atau berpasir. Metode ini lebih sederhana dari  metode rakit apung dan lebih menghemat biaya. Namun, metode ini harus dilaksanakan sesuai dengan syarat dan ketepatan lokasi karena metode ini sangat rentan dengan hama penyakit ataupun gelombang yang dapat mengurangi laju pertumbuhan dan hasil akhir Kappaphycus alvarezii.

 

KESIMPULAN

            Berdasarkan  hasil  penelitian diketahui  bahwa  metode  budidaya rumput  laut  berpengaruh  terhadap  laju pertumbuhan,  pertambahan  berat  dan laju  pertumbuhan  Rumput Laut Kappaphycus alvarezii. Metode  rakit  apung  memiliki nilai  rata-rata  laju pertumbuhan  dan  pertumbuhan  rumput laut yang tinggi dibandingkan pada metode lepas  dasar sehingga  metode  rakit  apung  lebih efektif. Dari  hasil  pengukuran parameter  kualitas  air  pada  lokasi penelitian  dapat  dikatakan  berada dalam  batas  yang  kisaran  yang  layak untuk  pertumbuhan  Rumput Laut Kappaphycus alvarezii.

 

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto,  E  dan  Liviawati,  E.  1993. Budidaya  Rumput  Laut  dan  Cara Pengolahannya.         Penerbit Bhratara. Jakarta.

Atmadja,  W.S.,  A.  Kadi;  Sulistijo  dan Rachmaniar.  1996.  Pengenalan Jenis-jenis    Rumput    Laut Indonesia.  Puslitbang Oseanologi-LIPI. Jakarta.

Dahuri,  H.R.,  J.  Rais,  S.P.  Ginting,  dan  J.  Sitepu. 2001.  Pengelolaan  Sumberdaya  Wilayah             Pesisir  dan  Lautan  Secara  Terpadu.  PT Pradnya Paramita.Jakarta.

Diskanlut  Sulteng  dan  LP3L  TALINTI. 2007.  Grand  Strategi Pengembangan  Budidaya        Rumput Laut  di  Propinsi  Sulawesi  Tengah “Menuju  Sulawesi Tengah  sebagai     Propinsi  Rumput  Laut  Tahun 2011”.  Laporan  Final  Dinas Kelautan  Dan  Perikanan       Propinsi  Sulawesi  Tengah  dan LP3L TALINTI.